Kisah Nyata | Sang Komandan Satpam Pasar Pangkalpinang di Era 80 - an
Pak Tamok — sosok yang bukan hanya dikenal, tapi ditakuti, dihormati, dan dijadikan panutan oleh para pedagang, sopir angkot, hingga para preman pasar.
Di tanah Pangkalpinang, tepatnya di era 1980-an, ada satu nama yang bergema di setiap sudut pasar, terminal, hingga lokalisasi Teluk Bayur.
Tamok, lelaki kelahiran 1 Januari 1959, bukan putra asli Bangka. Ia lahir di Padang, tumbuh besar di Palembang, lalu takdir membawanya merantau ke Pangkalpinang, kota yang kelak menjadi medan pengabdiannya.
Di sanalah ia menancapkan nama dan pengaruhnya, sekuat akar pohon beringin tua di tengah pasar.
Awal Mula Sang Legenda
Bermodal nyali, otot, dan kecerdikan, Tamok muda merajai tiap jengkal sudut pasar. Tak ada yang berani melawan, sebab Tamok bukan sekadar berotot — ia menguasai ilmu silat warisan leluhur.
Tangan kosongnya bisa melumpuhkan lawan, dan jika golok di pinggangnya terhunus, maka nyali siapapun seketika luruh.
Terminal, pasar dalam, pasar ikan, hingga gedung walet yang kala itu menjadi ladang emas putih, semua tunduk di bawah kendalinya.
Bahkan, lokalisasi Teluk Bayur yang gemerlap saat malam, tak lepas dari genggaman tangannya. Setiap transaksi, setiap urusan, harus melewati restunya.
Namun, di balik kekerasan hidupnya, ada sisi lain Tamok yang tak banyak orang tahu. Kepada pedagang kecil, tukang pikul, hingga janda-janda tua di pasar, Tamok adalah pelindung.
Tak sedikit yang ia bantu saat kesusahan, meski caranya tak selalu halus.
Texas Kecil di Pangkalpinang
Tamok menetap di kawasan Jagal, dekat terminal induk — tempat yang dikenal sebagai "Texas-nya" Pangkalpinang. Daerah itu dihuni banyak perantau dari Palembang, dan bagi mereka, Tamok bukan sekadar preman.
Ia abang, pelindung, bahkan dianggap pemimpin yang melindungi nasib para perantau di tanah orang.
Malam Berdarah di Teluk Bayur
Namun, legenda tak lahir tanpa ujian. Suatu malam, saat Tamok sedang mengawasi lokalisasi Teluk Bayur, datanglah belasan pemuda bersenjata tajam. Mereka menyergap, mencoba merobohkan sang penguasa. Tapi Tamok tak gentar. Dengan tangan kosong, ia menghadapi mereka satu per satu.
Konon, Tamok memiliki ilmu kebal. Bacokan demi bacokan hanya meninggalkan goresan tipis di kulitnya. Namun, seorang pemuda licik menebar pasir ke wajahnya. Seketika dunia Tamok gelap. Di tengah gelap itu, golok demi golok menghunjam tubuhnya.
Darah mengalir dari wajah dan tubuhnya, tapi Tamok tetap berdiri. Dengan langkah tertatih, ia berjalan pulang, meninggalkan jejak darah di sepanjang jalan. Sejak malam itu, Legenda Tamok si Kebal lahir dan menjadi buah bibir seantero Pangkalpinang.
Dari Preman ke Komandan
Tahun 1998, saat Persatuan Masyarakat Pedagang Pasar Pangkalpinang (PMP3S) membuka rekrutmen satpam pasar, Tamok diminta bergabung.
Meski pangkatnya Komandan Satpam, semua tahu, dengan atau tanpa seragam, Tamok-lah penguasa sejati pasar itu.
Namun, zaman bergulir. Terminal induk dibongkar, pasar dalam direnovasi, dan wajah Pangkalpinang berubah. Tamok mengikuti arus, hijrah menjadi Komandan Satpam di BTC (Bangka Trade Center). Meski zaman berubah, wibawa Tamok tak luntur. Nama dan kisahnya tetap hidup di setiap sudut pasar.
Akhir Sang Legenda
Hingga pada 1 September 2018, di usianya yang ke-59, Tamok menghembuskan napas terakhirnya karena sakit. Sosok yang dulu berdiri gagah menantang kerasnya kehidupan, kini beristirahat dalam damai.
Tapi legenda tentangnya tak pernah mati. Pasar Pangkalpinang selalu menyebut namanya dengan hormat dan segan.
Kini, anaknya Lukman melanjutkan jejak langkahnya menjaga pasar, sementara istrinya menjadi tukang parkir di samping kantor Pegadaian Pangkalpinang. Hidup terus berputar, tapi nama Pak Tamok tetap hidup dalam ingatan, sebagai simbol keberanian, kehormatan, dan kegetiran hidup di tanah rantau.
Hikmah Sang Legenda
Kisah Pak Tamok mengajarkan kita bahwa di balik kekerasan hidup, selalu ada sisi kemanusiaan.
Bahwa nyali dan kehormatan adalah harta yang tak ternilai. Dan bahwa setiap orang, sekeras apapun, punya cerita, punya luka, dan pada akhirnya, punya tempat dalam sejarah.
Hormatilah sejarah, kenanglah jasa, dan jadikan legenda sebagai pelajaran.
#satpampasarpangkalpinang #pangkalpinang #satpampasar

0 Komentar